Ibuku adalah wanita yang melahirkan aku, istri dari bapakku, dan anak dari mbahku. Ibuku adalah wanita yang aku panggil mama-bersanding dengan bapak, aku sebut emak dalam obrolan sehari-hari, dan terdaftar sebagai “ibuku” dalam kontak hpku.
Ibuku adalah satu-satunya wanita selain aku dalam keluargaku, karena bapak, kakak, dan adikku semuanya adalah lelaki. Maka hanya kepada ibukulah aku belajar tentang kehidupan perempuan.
Ibuku adalah wanita yang pemurah. Saking pemurahnya, tiap libur lebaran dan kami pulang kampung, bawaan kami pasti berlipat kali jumlahnya karena diisi oleh-oleh. Padahal bukan main berat dan repotnya ritual perjalanan sekali setahun itu, dan ibuku hanya akan berkata maklum, “Namanya juga libur lebaran.”
Ibuku adalah wanita yang tidak seperti ibu-ibu dalam sinetron. Kalau ibuku marah nada suaranya tidak akan lebih tinggi dari satu oktaf, bahkan tidak sampai nada “do” tinggi, paling-paling hanya sampai nada “re”.
Ibuku adalah wanita yang gampang khawatir tentang aku dan saudara-saudaraku. Dulu ia sering menghubungi teman-temanku jika aku belum pulang hingga malam, ketika hp belum jadi milikku. Tapi kekhawatiran ibuku tidak menyulitkan anaknya untuk ikut kegiatan sekolah, ataupun kemping ke ujung barat pulau Jawa. Ia takut untuk naik wahana di Dufan, sehingga dengan senang hati akan setia menunggui barang bawaan ketika anak-anaknya sibuk mengantri naik wahana. Ibuku adalah wanita yang suka membeli penganan, memasak macam-macam, tapi tetap saja membolehkan abang dan adikku untuk jajan, meski agak berat hati pastinya. Maka biasanya aku dan ibukulah yang makan makanan rumah bersama-sama.
Ibuku itu.. wanita yang keren. Keren seperti aku. Err.. tidak-tidak. Ia tipe wanita yang kuat, kuat menguras rumah ketika kami sering kebanjiran dulu, kuat mengangkat galon penuh berisi air, dan kuat untuk tidak marah-marah selalu. Ibuku jarang menangis, tapi ia juga mudah untuk menangis, mungkin saja ibuku sering menangis tanpa aku ketahui. Di setiap “sungkeman” lebaran, ibuku pasti menangis. Dulu-dulu sewaktu kecil aku biasa saja melihatnya, tapi semakin besar aku jadi ingin ikut menangis kalau melihat ibu menangis. Tangisan ibuku juga keren, tidak seperti menangis, hanya saja ada air yang keluar dari matanya.
Ibuku adalah wanita.. yang kadang mengirimiku sms panjang, tapi hanya menjawab singkat jika aku mengiriminya sms yang panjang. Akhir-akhir ini aku jarang bertemu ibuku. Hanya lewat sms dan telepon singkatlah kami berbicara. Rata-rata setelah tiga minggu baru aku akan pulang, untuk menginap satu-dua malam di rumah, memakan masakan ibuku, dan mencium tangannya. Minggu ini bahkan sudah mulai minggu keempat aku tidak bertemu ibu. Bagaimana perasaan ibu yang lama tidak bertemu anaknya, aku tidak tahu. Kangen pasti, rindu tentu, tapi ibu tidak pernah memaksa aku pulang.
Hubunganku dengan ibuku bisa dibilang tidak mesra. Entah kenapa malu rasanya untuk sekedar memeluk ibu, mencium pipinya, bahkan sekedar mengucapkan “Selamat ulang tahun, Ma”, atau “Selamat hari Ibu, Ma” jika momen-momen itu tiba. Maka biasanya lewat tulisan-tulisan di blog sajalah aku bisa dengan tanpa sungkan mengungkapkannya. Lewat tulisan-tulisan yang aku yakin, ibuku tidak akan membacanya. Seperti tulisan ini.
~~~
Ini tulisan yang ditulis ketika dulu ada lomba menulis tentang ibu, diposting di hari ini karena spesial ultah ibu.
Selamat ulang tahun, Ma. Sehat selalu, terima kasih untuk tahun-tahun perawatan dan pengasuhan yang penuh kasih sayang selama ini. 
Maafkan anakmu yang kelakuannya masih macam bocah ini..
Ada salam dari emakpalsu di kelas, katanya:

Aamiin~